← Semua kisah anggota

Usaha Bangkrut, Utang Rp 850 Juta, dan Keputusan Menjual Rumah

HS

Hendra S., 41 tahun

Mantan pemilik bengkel · Surabaya

Total utang
Rp 850 juta
Waktu pelunasan
3 tahun 4 bulan
Metode utama
Restrukturisasi + likuidasi aset
Saya rugi dua tahun bukan karena salah strategi, tapi karena gengsi. Menutup usaha lebih awal akan menghemat ratusan juta.

Ketika semuanya runtuh

Bengkel saya jalan sebelas tahun. Empat mekanik, dua kanvas, pelanggan tetap dari tiga perusahaan logistik. Tahun 2021 dua pelanggan korporat itu berhenti bersamaan dan piutang mereka Rp 310 juta tidak pernah dibayar sampai hari ini. Saya masih harus membayar gaji, sewa, dan cicilan mesin.

Saya tutup lubang dengan kredit modal kerja. Lalu dengan pinjaman koperasi. Lalu dengan uang supplier yang seharusnya untuk membayar sparepart. Ketika saya akhirnya duduk dan menghitung, total kewajiban saya Rp 850 juta: Rp 420 juta ke bank, Rp 230 juta ke supplier, Rp 120 juta ke koperasi, dan Rp 80 juta ke kakak dan mertua saya.

Dua tahun yang terbuang

Bagian yang paling ingin saya ulang adalah dua tahun setelah itu. Saya bertahan mempertahankan bengkel yang jelas-jelas sudah tidak sehat, karena saya tidak sanggup membayangkan orang berkata "bengkel Hendra bangkrut". Setiap bulan saya menyuntik usaha itu dengan uang pinjaman. Setiap bulan angkanya bertambah sekitar Rp 15–20 juta karena bunga dan operasional.

Kalau saya menutup bengkel dua tahun lebih awal, utang saya kemungkinan besar berhenti di angka Rp 500-an juta. Gengsi itu harganya sekitar Rp 300 juta. Ini bagian yang paling jarang diceritakan orang, dan justru paling penting.

Keputusan menjual rumah

Keputusan terberat datang di bulan kelima setelah saya bergabung dengan kelompok. Saya punya rumah senilai Rp 620 juta yang masih tersisa cicilan Rp 180 juta. Menahannya berarti membayar bunga selama belasan tahun sambil tetap dikejar kreditur lain.

Kami hitung bersama: menjual rumah, melunasi sisa KPR, dan memakai selisihnya untuk menutup seluruh utang bank dan koperasi. Sisanya kami sewa rumah kecil Rp 1,3 juta per bulan. Istri saya yang justru lebih dulu setuju. Katanya, "Rumah bisa dibeli lagi. Ketenangan tidak dijual di mana-mana."

Setelah eksekusi itu, dari Rp 850 juta tersisa Rp 268 juta — semuanya utang supplier dan keluarga, tanpa bunga. Beban bulanan saya turun dari Rp 21 juta menjadi Rp 4,5 juta. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, saya bisa tidur penuh.

Berhadapan dengan bank dan supplier

Sebelum penjualan rumah selesai, saya datang sendiri ke bank membawa laporan keuangan usaha, bukti piutang macet, dan proposal penyelesaian. Bank menyetujui skema pelunasan sekaligus dengan potongan denda Rp 47 juta.

Supplier jauh lebih manusiawi daripada yang saya takutkan. Tiga dari lima supplier menyetujui cicilan 24 bulan tanpa bunga karena kami sudah bekerja sama bertahun-tahun. Satu supplier bahkan menawarkan saya kembali menjadi mitra servis lepas — dan itu yang kemudian menjadi sumber penghasilan utama saya.

Pelajarannya: reputasi bertahun-tahun itu aset. Jangan dibakar dengan menghilang. Yang membuat orang marah biasanya bukan gagal bayar, tapi tidak dikabari.

Utang ke keluarga: yang paling sulit

Utang Rp 80 juta ke kakak dan mertua adalah yang paling ringan secara angka dan paling berat secara perasaan. Tidak ada surat penagihan, tapi ada tatapan di meja makan setiap Lebaran.

Saya perlakukan sama seperti utang bank: saya buat surat pernyataan, jadwal cicilan Rp 1,5 juta per bulan, dan saya transfer di tanggal yang sama setiap bulan meski nominalnya kecil. Konsistensi itu yang memulihkan hubungan, bukan besarnya cicilan.

Membangun penghasilan baru

Saya tidak membuka bengkel lagi. Saya jadi teknisi servis panggilan untuk armada perusahaan logistik, modal satu motor dan satu set perkakas. Penghasilan awal Rp 7 juta per bulan, sekarang Rp 16–19 juta dengan dua orang pembantu lepas. Tanpa sewa tempat, tanpa gaji tetap, tanpa stok sparepart yang mengendap.

Usaha kedua saya jauh lebih kecil dari yang pertama, tapi tidak pernah membuat saya berutang lagi.

Yang ingin saya katakan

Kepada pemilik usaha yang sedang bertahan mati-matian: pisahkan menyelamatkan usaha dari menyelamatkan harga diri. Hitung dengan dingin. Kalau angkanya sudah tidak masuk akal selama enam bulan berturut-turut, berhenti menyuntik. Menutup usaha bukan kekalahan permanen — utang yang terus tumbuh, itu yang permanen.

Nama dan sebagian detail disamarkan atas permintaan anggota. Angka utang, durasi, dan strategi ditulis sesuai catatan pendampingan di Kelompok Lunas.

Kisah Lainnya

Chat Rachel