Gaji Rp 2,7 Juta, Utang Rp 96 Juta: Kisah Bu Sri
Sri M., 47 tahun
Guru honorer · Klaten
- Total utang
- Rp 96 juta
- Waktu pelunasan
- 31 bulan
- Metode utama
- Debt snowball + usaha sampingan
Saya tidak pernah punya bulan yang besar. Saya cuma punya 31 bulan yang tidak pernah bolong.
Utang yang menumpuk pelan-pelan
Utang saya tidak datang sekaligus. Ia menumpuk selama sembilan tahun lewat hal-hal yang terasa wajar: renovasi dapur, biaya kuliah anak sulung, motor untuk anak kedua, dan tiga kali pinjaman koperasi sekolah yang dipotong langsung dari honor.
Karena dipotong otomatis, saya tidak pernah benar-benar merasakannya. Sampai suatu bulan honor saya yang Rp 2,7 juta hanya cair Rp 400 ribu. Sisanya sudah habis untuk potongan. Saya baru sadar total kewajiban saya Rp 96 juta ke koperasi sekolah, bank keliling, dan satu bank plecit di pasar dengan bunga 20% per pinjaman.
Hari saya berhenti menghindar
Saya termasuk yang tidak berani membuka amplop tagihan. Anak saya yang akhirnya membukanya untuk saya, dan kami menghitung bersama di meja makan sampai jam satu pagi. Anak saya menangis bukan karena angkanya, tapi karena ia tidak tahu ibunya sekesulitan itu selama bertahun-tahun.
Sejak malam itu saya membuat satu aturan: setiap Sabtu pagi saya duduk 30 menit untuk mencatat semua uang masuk dan keluar. Tidak lebih. Kebiasaan kecil yang tidak pernah saya lewatkan selama hampir tiga tahun.
Memperbesar selisih, bukan menunggu gaji naik
Honor guru honorer tidak akan naik banyak, dan saya berhenti berharap ke sana. Yang bisa saya kendalikan adalah selisih antara pemasukan dan pengeluaran.
Dari sisi pengeluaran: saya berhenti berlangganan dua layanan yang jarang dipakai, memasak untuk bekal, dan mengurangi arisan dari tiga menjadi satu. Total penghematan Rp 610 ribu per bulan.
Dari sisi pemasukan: saya membuka les privat sore hari untuk enam anak, Rp 150 ribu per anak per bulan, dan berjualan risoles beku ke grup wali murid setiap Jumat. Tambahan Rp 1,4 juta per bulan. Suami saya, tukang bangunan harian, menambahkan Rp 500 ribu setiap kali proyeknya panjang.
Dari selisih Rp 100 ribu yang nyaris nol, saya punya rata-rata Rp 1,9 juta per bulan untuk pelunasan. Itu angka yang membuat semuanya mungkin.
Kenapa saya memilih snowball
Secara hitungan, saya seharusnya melunasi bank plecit dulu karena bunganya paling kencang. Tapi jujur, saya butuh merasa menang. Saya lunasi dulu tiga utang terkecil: Rp 2,4 juta, Rp 3,8 juta, dan Rp 5,1 juta. Dalam lima bulan, tiga nama hilang dari daftar saya.
Setelah itu barulah saya punya cukup keberanian dan momentum untuk menyerang yang besar. Sisa dana dari utang yang lunas selalu saya pindahkan utuh ke target berikutnya — tidak pernah saya nikmati.
Menolak tawaran pinjaman baru
Godaan terbesar datang di bulan ke-14, saat koperasi menawarkan pinjaman baru karena catatan saya sudah bagus. Nominalnya Rp 25 juta, dan saya sangat ingin memperbaiki atap yang bocor.
Saya tulis di kertas: bunga total yang akan saya bayar, dan berapa bulan pelunasan saya akan mundur. Sepuluh bulan. Saya tolak, dan atap itu kami perbaiki bertahap selama tujuh bulan dengan uang tunai. Bocor tetap teratasi, tanpa menambah rantai baru.
Hasil setelah 31 bulan
Utang terakhir saya lunas di bulan ke-31. Honor saya sekarang cair utuh Rp 2,7 juta, ditambah les dan risoles yang jalan terus sekitar Rp 2 juta. Uang yang dulu habis untuk potongan sekarang menjadi tabungan pendidikan anak bungsu.
Saya juga menyimpan buku catatan Sabtu pagi yang pertama. Halaman depannya masih ada tulisan tangan saya: "Rp 96.000.000". Sekarang saya membacanya bukan dengan takut, tapi dengan lega.
Untuk kamu yang merasa gajinya terlalu kecil
Gaji kecil bukan alasan untuk tidak mulai — justru alasan untuk mulai lebih cepat, karena bunga tidak peduli seberapa kecil penghasilanmu. Cari Rp 500 ribu pertama, entah dari memotong pengeluaran atau menambah pemasukan. Lalu ulangi 31 kali. Itu saja rahasianya.
Nama dan sebagian detail disamarkan atas permintaan anggota. Angka utang, durasi, dan strategi ditulis sesuai catatan pendampingan di Kelompok Lunas.